Sabtu, 31 Mei 2014
KEJUJURAN
I. TUJUAN UMUM
1.
Melakukan proses pensucian jiwa peningkatan akhlak dan
prilaku dan memiliki kebiasaan yang islami pada individu dan masyarakatnya.
2.
Mampu mengontrol diri dengan kebebasan yang dimiliki dan
menjauhi diri dari sikap berlebihan, serta tidak mengumbar hawa nafsu hanya
karena dirinya.
3.
Meningkatkan kemampuan menerapkan hukum islam dan
arahannya pada diri seorang muslim
4.
Mendidik pribadi muslim memilki rasa tangggungjawab yang
besar serta kasih sayang kepada manusia,
memperhatikan secara adil konsep berinteraksi dengan manusia,
menghormati harta secara umum dan khusus pola hidup ekonomis dan mengembangkan
harta serta menjaganya.
5.
Mendidik pribadi muslim dalam melawan tradisi asing yang
kering dari semangat islam pada dirinya keluarga dan masyarakat.
II. Tujuan Teori (cognitive)
1.
Memiliki sifat jujur, karena ia pangkal kebaikan.
2.
menjauhi sifat dusta
3.
Memaparkan kejujuran Rasulullah saw.
III. Tujuan
Afektif dan Psikomotorik (Praktik)
1.
Tidak merokok
2.
Tidak sombong kepada manusia
3.
Tidak mengumpat dengan aib manusia.
4. Merasa malu kepada manusia apabila salah
5.
Tawadhu tanpa harus merasa terhina
6. Bersikap lemah lembut kepada manusia
7.
Bersilaturrahmi
8.
Tidak mudah mengekor (ikut-ikutan)
9.
Tidak berbohong kecuali yang mubah
10.
Menghindari dari mencemooh orang lain
11.
Menjauhi ghibah ,mengadu domba,
12.
Menghindari menghardik
13.
Menghindari memperolok-olok manusia
14.
Menjauhi teman yang buruk akhlak
IV. Pilihan Kegiatan
Pilihan kegiatan yang bisa diselenggarakan dalam tutorial adalah :
1.
Kegiatan Pembuka
a.
Mengkomunikasikan tujuan
kajian tazkiyah
2. Kegiatan
Inti:
a.
Kajian
tentang Ash-Shidq
b.
Berdikusi dan tanya jawab seputar tema kajian ( lihat tujuan Kognitif, afektif dan psikomotor)
c.
Penekanan dari tutor tentang nilai dan hikmah yang terkandung dalam kajian
tersebut
3. Kegiatan Penutup:
a.
Tugas mandiri
(kegiatan pendukung)
b.
Evaluasi
V. Kegiatan-kegiatan Pendukung (Pilihan)
1.
Membaca wirid muhasabah setiap harinya
2.
Mengumpulkan teman-teman untuk saling mengawasi satu
dengan lainnya dalam menjauhi kemaksiatan
3.
Berusaha menyiapkan note book untuk menyemangati prilaku
terpuji
4.
Meluangkan waktu uuntuk mengingat bahwa allah maha
megawasi
5.
Berpuasa sunnah semampunya
6.
Membuat pembahasan tentang tazkiyah nafs dan terdorong
untuk melakukannya
7.
Hendaknya memiliki aktifitas di lingkungannya dalam
memotivasi kebersihan dan akhlak
VI. Sarana-sarana Evaluasi dan Monitoring
1.
Mempersiapkan soal-soal untuk didiskusikan sebegai
penegasan batas pemahamannya dan
komitmennya
2.
Mengumpulkan informasi yang menjelaskan komitmennya pada
tazkiyyah Nafs.
3.
Mengawasi komitmennya pada setiap aktivitas lainnya
4.
Mengawasi ucapannya prilaku ketika ia bersentuhan dengan
masyarakat
5.
Memberikan sikap dengan informasi yang ada yang
berhubungan dengan akhlaknya
VII. Referensi
1.
Akhlak muslim Muhammad al-ghazali
2.
Nuzhatl Muttaqin Syarh Riyadussolihin Mustafa al-Banna
3.
As-suluk Al-Ijtima’i Hasan Ayyub
4.
Ihyaa ulumuddin
abu hamid alghazali
VIII. MATERI
AS-SHIDQ
Allah swt. berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (At-Taubah: 119)
“Sesungguhnya, laki-laki dan perempuan yang
muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap
dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar (jujur), laki-laki
dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu, laki-laki dan
perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki
dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara
kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah
telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzab:
35)
“...Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap
Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (Muhammad:
21)
Khat Hadits 1/54
عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
عَنِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ
الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ
صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي
إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ كَذَّابًا متفق عليه
Ibnu
Mas’ud r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Kejujuran
mengantarkan pada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan ke surga. Seseorang yang
senantiasa berkata jujur akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur.
Sedangkan kebohongan, mengantarkan pada kedurhakaan, dan kedurhakaan
mengantarkan ke neraka. Seseorang yang senantiasa berkata bohong akan dicatat
di sisi Allah sebagai pembohong.” (Muttafaq 'alaih)
Pelajaran dari Hadits
1. Secara implisit Rasulullah saw. memerintahkan umatnya untuk
berkata dan berbuat jujur, karena kejujuran akan mendatangkan kebaikan. Beliau
juga memerintahkan umatnya untuk menjauhi kebohongan, karena kebohongan akan
mendatangkan keburukan.
2. Orang yang terbiasa melakukan sesuatu dan telah menjadi sifatnya,
maka tidak salah kalau dia dijuluki dengan kebiasaan atau sifatnya itu.
3. Pahala dan siksa tergantung amal
yang dilakukan.
عن أبي محمد الحسن بن علي بن أبي طالب
رضي الله عنهما قَالَ حَفِظْتُ
مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى
مَا لَا يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ
Abu Muhammad, Hasan bin Ali bin Abu Thalib r.a.,
berkata, “Aku hafal dari Rasulullah (sebuah nasihat), ‘Tinggalkan yang
meragukanmu dan ambillah yang tidak meragukanmu, karena kejujuran adalah
ketenteraman, dan kebohongan adalah kebimbangan.’” (h.r. Tirmidzi. Ia
berkata, “Hadits ini shahih.”)
Pelajaran Hadits
Anjuran untuk menjauhi
perkara syubhat, dan memilih perkara-perkara yang diperbolehkan, karena orang
yang menjauhi syubhat berarti telah menjaga kesucian agama dan harga dirinya.
عَنْ أَبِي سُفْيَان صَخْر بْنِ حَرْبٍ
رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي حَدِيْثِهِ الطَّوِيْلِ فِي قِصَّةِ هِرَقْل قَالَ هِرَقْلُ
فَمَاذَا يَأْمُرُكُمْ يَعْنِي النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَبُوْ
سُفْيَان قُلْتُ يَقُوْلُ اعْبُدُوا اللهَ وَحْدَهُ لاَ تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا
وَاتْرُكُوْا مَا يَقُوْلُ آبَاؤُكُمْ وَيَأْمُرُنَا بِالصَّلاَةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ
وَالصِّلَةِ متفق عليه
Abu Sufyan, Shakhr bin Harb r.a., menyebutkan
dalam hadits panjangnya tentang Heraklius bahwa Heraklius berkata, “Apa yang
diperintahkan (Muhammad SAW.) kepada kalian?”
Aku (Abu Sufyan) menjawab, “Ia (Muhammad SAW.)
berkata, ‘Sembahlah Allah semata, jangan kalian menyekutukan-Nya dengan
sesuatu, dan tinggalkan apa yang dikatakan oleh nenek moyang kalian.’ Dia juga
menyuruh kami melakukan shalat, membayar zakat, menjaga kehormatan, dan
silaturahmi.” (Muttafaq 'alaih)
Pelajaran dari Hadits
1. Kejujuran
Rasulullah saw. tidak perlu diragukan lagi. Ini diperkuat dengan kesaksian
musuh-musuhnya.
2. Ajaran Islam yang paling mendasar adalah mentauhidkan Allah dan
tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun. Tauhid adalah sumber kebaikan.
3. Larangan untuk taqlid buta dalam urusan agama.
عَنْ أَبِي ثَابِتٍ وَقِيْلَ أَبِيْ سَعِيْدٍ
وَقِيْلَ أَبِي الْوَلِيْدِ سَهْلِ بْنِ حَنِيْفٍ وَهُوَ بَدْرِيٌّ رضي الله عنه
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ سَأَلَ اللَّهَ
الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ
عَلَى فِرَاشِهِ وَلَمْ يَذْكُرْ أَبُو الطَّاهِرِ فِي حَدِيثِهِ بِصِدْقٍ رواه
مسلم
Abu
Tsabit, Sahl bin Hunaif r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda,
"Barangsiapa yang memohon kepada Allah swt. mati syahid, dengan jujur
(sungguh-sungguh), niscaya Allah akan menempatkannya di tempat para syuhada,
meskipun ia mati di atas tempat tidurnya.” (Muslim)
Pelajaran dari Hadits
1. Tekad yang sungguh-sungguh merupakan penyebab
tercapainya sebuah cita-cita.
2. Orang yang
niat berbuat baik, sudah mendapat pahala atas niat baiknya, meskipun ia belum
melakukan apa yang diniatkannya.
3. Anjuran
untuk berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar dimatikan dalam keadaan
syahid.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ َقَالَ َقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ غَزَا نَبِيٌّ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ فَقَالَ لِقَوْمِهِ لَا يَتْبَعْنِي
رَجُلٌ قَدْ مَلَكَ بُضْعَ امْرَأَةٍ وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَبْنِيَ بِهَا وَلَمَّا
يَبْنِ وَلَا آخَرُ قَدْ بَنَى بُنْيَانًا وَلَمَّا يَرْفَعْ سُقُفَهَا وَلَا
آخَرُ قَدْ اشْتَرَى غَنَمًا أَوْ خَلِفَاتٍ وَهُوَ مُنْتَظِرٌ وِلَادَهَا قَالَ
فَغَزَا فَأَدْنَى لِلْقَرْيَةِ حِينَ صَلَاةِ الْعَصْرِ أَوْ قَرِيبًا مِنْ
ذَلِكَ فَقَالَ لِلشَّمْسِ أَنْتِ مَأْمُورَةٌ وَأَنَا مَأْمُورٌ اللَّهُمَّ
احْبِسْهَا عَلَيَّ شَيْئًا فَحُبِسَتْ عَلَيْهِ حَتَّى فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ
قَالَ فَجَمَعُوا مَا غَنِمُوا فَأَقْبَلَتْ النَّارُ لِتَأْكُلَهُ فَأَبَتْ أَنْ
تَطْعَمَهُ فَقَالَ فِيكُمْ غُلُولٌ فَلْيُبَايِعْنِي مِنْ كُلِّ قَبِيلَةٍ رَجُلٌ
فَبَايَعُوهُ فَلَصِقَتْ يَدُ رَجُلٍ بِيَدِهِ فَقَالَ فِيكُمْ الْغُلُولُ
فَلْتُبَايِعْنِي قَبِيلَتُكَ فَبَايَعَتْهُ قَالَ فَلَصِقَتْ بِيَدِ رَجُلَيْنِ
أَوْ ثَلَاثَةٍ فَقَالَ فِيكُمْ الْغُلُولُ أَنْتُمْ غَلَلْتُمْ قَالَ
فَأَخْرَجُوا لَهُ مِثْلَ رَأْسِ بَقَرَةٍ مِنْ ذَهَبٍ قَالَ فَوَضَعُوهُ فِي
الْمَالِ وَهُوَ بِالصَّعِيدِ فَأَقْبَلَتْ النَّارُ فَأَكَلَتْهُ فَلَمْ تَحِلَّ
الْغَنَائِمُ لِأَحَدٍ مِنْ قَبْلِنَا ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ
وَتَعَالَى رَأَى ضَعْفَنَا وَعَجْزَنَا فَطَيَّبَهَا لَنَا
Abu
Hurairah r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Seorang nabi dari para nabi terdahulu, berangkat perang. Ia
berpesan kepada kaumnya, ‘Janganlah mengikuti kami, orang yang ingin
bersanggama dengan istrinya dan belum terlaksana, orang yang membangun rumah dan
belum selesai, dan orang yang baru membeli kambing atau unta, dan ia menunggu
kelahiran anaknya.’
Kemudian, nabi itu berangkat menuju medan perang.
Ketika mendekati sebuah dusun, kira-kira menjelang shalat Ashar, Nabi itu
berkata kepada matahari, ‘Wahai matahari, sesungguhnya, engkau diberi perintah
dan aku pun diberi perintah. Ya Allah, hentikanlah ia demi kemaslahatan kami.’
Maka, matahari itu berhenti hingga Allah
memberikan kemenangan kepada nabi itu. Lalu, nabi itu mengumpulkan
barang-barang pampasan perang. Tiba-tiba, datanglah api (dari langit), namun harta pampasan
itu tidak terbakar. Nabi itu bersabda, ‘Sesungguhnya, ada di antara kalian yang
menyembunyikan harta. Oleh karena itu, setiap suku harus mengirimkan seorang
laki-laki untuk berbaiat kepadaku.’
Saat berbaiat ada salah seorang yang tangannya
melekat dengan tangan nabi itu (tidak bisa dilepas), sehingga Nabi itu berkata,
‘Beberapa orang dari sukumu ada yang menyembunyikan harta. Oleh karena itu,
semua anggota sukumu harus berbaiat kepadaku.’
Kemudian, melekatlah tangan dua atau tiga orang
dengan tangan nabi itu. Beliau bersabda, ‘Kalianlah yang menyembunyikan harta.’
Orang-orang itu pulang ke rumahnya masing-masing.
Mereka datang kembali dengan membawa emas sebesar kepala sapi, lalu diletakkan
di hadapan nabi itu. Tak lama kemudian datanglah api yang membakar semua harta
pampasan hingga habis.
(Rasulullah lalu berkata), ‘Harta pampasan perang
belum dihalalkan bagi orang-orang sebelum kami. Lalu, Allah melihat kelemahan
kami. Karena itu, Allah menghalalkan pampasan perang untuk kami.’” (Muttafaq
‘alaihi)
Pelajaran dari Hadits
1. Imam Qurthubi berkata, “Nabi melarang orang-orang tersebut, karena
dalam kondisi seperti itu pikiran mereka akan bercabang, sehingga kesungguhan
mereka untuk berjihad dan syahid tidak bisa diharapkan.”
2. Adapun yang diinginkan oleh Nabi adalah mereka berjihad dengan
niat yang sungguh-sungguh dan perhatian mereka sepenuhnya tertuju pada jihad.
3. Orang-orang yang pergi berjihad sebaiknya dicukupi kebutuhan
dunianya, yakni kebutuhan dia terhadap keluarganya agar pikirannya terfokus
untuk jihad.
4. Perintah Allah dan para Rasul-Nya kepada benda-benda mati adalah
perintah yang mutlak dipatuhi, sedangkan perintah kepada orang-orang yang
berakal adalah tanggung jawab.
5. Peristiwa di atas merupakan bukti bahwa para Nabi memiliki
mukjizat.
6. Pada zaman nabi-nabi yang diutus sebelum Nabi Muhammad, salah satu
tanda adanya kecurangan dalam harta pampasan perang adalah datangnya api dari
langit yang melalap habis harta tersebut. Akan tetapi, Allah swt.
memperbolehkan Muhammad saw. memanfaatkan harta pampasan perang untuk umatnya.
Ini merupakan bukti keistimewaan Rasulullah saw. di hadapan Allah.
6/59
عَنْ أبِي خَالِدٍ حَكِيْم بْنِ حِزَامٍ
رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا
بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَ بَرَكَةُ
بَيْعِهِمَا متفق عليه
Abu Khalid, Hakim bin Hizam r.a.,
berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Dua orang yang melakukan jual beli
bebas memilih sebelum keduanya berpisah. Jika keduanya jujur dan berterus
terang dalam jual beli, maka keduanya akan mendapatkan berkah. Namun, jika
keduanya tidak berterus terang dan berdusta, maka jual beli yang mereka lakukan
tidak akan berkah.” (Bukhari dan Muslim)
Pelajaran dari Hadits
1. Para ulama Syafi’iyyah memperbolehkan khiyar majelis (hak
membatalkan transaksi jual beli selama masih berada di tempat). Sementara itu,
para ulama Hanafiyah tidak memperbolehkannya, karena sejak transaksi disepakati
secara lisan, maka transaksi telah selesai. Mazhab lain berpendapat, “Perbedaan
antara penjual dan pembeli, seperti ketika pembeli menawar dengan harga yang
tidak disepakati oleh penjual, berarti transaksi secara lisan telah selesai.”
2. Penjual wajib menjelaskan kepada
pembeli, ketika terdapat cacat, kekurangan, atau kelemahan pada barang yang
dijual. Jika penjual tidak menjelaskannya, lalu setelah transaksi pembeli
mengetahuinya, maka pembeli berhak membatalkan transaksi.
3. Dusta merupakan penyebab tidak berkahnya suatu usaha.
4. Penjual yang jujur pasti senantiasa mendapat berkah dari Allah.
Begitu juga dengan seorang hamba yang jujur ketika menjalin hubungan dengan
Tuhannya dan tidak berlaku riya’ ketika melakukan kewajiban. Dia pasti
mendapatkan berkah dan diberi pahala oleh Allah SWT.
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar