Senin, 01 Juni 2015

PEMBAHASAN
MODEL COOPERATIVE LEARNING
Student Team Achievement Division (STAD)

A.    Definisi Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin (dalam Slavin, 1995) merupakan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan pembelajaran kooperatif yang cocok digunakan oleh guru yang baru mulai menggunakan pembelajaran kooperatif.
Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. STAD merupakan sebuah tipe pembelajaran kooperatif yang memberi tim berkemampuan majemuk latihan untuk mempelajari konsep dan keahlian bersama para siswanya (Slavin, 1986). Model Pembelajaran Koperatif tipe STAD merupakan pendekatan Cooperative Learning yang menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal.

B.     Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Kooperatif tipe STAD
Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif Metode STADSetiap model pembelajaran mempunyai kelebihan dan kelemahan, begitu juga dengancooperative learning. Menurut Slavin dalam Hartati (1997:21)cooperative learning mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai berikut:

           1.      Kelebihan
a.       Dapat mengembangkan prestasi siswa, baik hasil tes yang dibuat guru maupun tes baku.
b.      Rasa percaya diri siswa meningkat, siswa merasa lebih terkontrol untuk keberhasilan akademisnya.
c.       Strategi kooperatif memberikan perkembangan yang berkesan pada hubungan interpersonal di antara anggota kelompok yang berbeda etnis.

Keuntungan jangka panjang yang dapat dipetik dari pembelajaran kooperatif menurut Nurhadi            (2004:115-116) adalah sebagai berikut :
a.       Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial.
b.  Memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan, informasi, perilakusosial, dan pandangan-pandangan.
c.       Memudahkan siswa melakukan penyesuaian.
d.      Memungkinkan terbentuk dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen.
e.       Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri dan egois.
f.       Membangun persahabatan yang dapat berkelanjutan hingga masa dewasa.
g. Berbagai keterampilan sosial yang diperlukan untuk memelihara hubungan saling membutuhkan dapat diajarkan dapat dipraktekkan.
h.      Meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama manusia.
i.        Meningkatkan kemampuan memandang masalah dan situasi dari berbagai perspektif.
j.        Meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasakan lebih baik.
k.  Meningkatkan kegemaran berteman tanpa memandang perbedaan kemampuan, jenis kelamin, normal ataucacat, etnis, kelas sosial, agama, dan orientasi tugas.

Menurut Slavin dalam Hartati (1997:21) cooperative learning mempunyai kekurangan sebagai berikut:
2.      Kelemahan
a.    Apabila guru terlena tidak mengingatkan siswa agar selalu menggunakan keterampilan-keterampilan kooperatif dalam kelompok maka dinamika kelompok akan tampak macet.
b.   Apabila jumlah kelompok tidak diperhatikan, yaitu kurang dari empat, misalnya tiga, maka seorang anggota akan cenderung menarik diri dan kurang aktif saat berdiskusi dan apabila kelompok lebih dari lima maka kemungkinan ada yang tidak mendapatkan tugas sehingga hanya membonceng dalam penyelesaian tugas.
c.    Apabila ketua kelompok tidak dapat mengatasi konflik-konflik yang timbul secara konstruktif, maka kerja kelompok akan kurang efektif.


C.    Langkah-langkahdalammenggunakanModel Cooperative LearningStudent Team Achievement Division (STAD)

            1.      Guru membentuk kelompok yang anggotanya 6 orang secara heterogen (campuran menurut                 prestasi, suku, jenis kelamin dan lain-lain)
            2.      Guru menyajikanpelajaransecarasingkat.
            3.     Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok, anggota                     yang tahu menjelaskan kepada anggota yang lainnya sampai semua anggota dalam kelompok               tersebut mengerti.
           4.     Guru mengamati peserta didik yang sedang mengerjakan tugas sambil mengelilingi tiap                       kelompok dan melihat adanya kemungkinan peserta didik memerlukan bantuan.
           5.     Guru memberi kuis atau pertanyaan kepada seluruh peserta didik. Pada saat menjawab                         pertanyaan, tidak boleh ada yang saling membantu.
            6.      Guru memberievaluasidanpenilaian.
            7.      Penutup.

Tujuan  utama  dari  pengajaran  ini  adalah guru menyajikan  materi  pelajaran  sesuai
dengan  yang  direncanakan.  Setiap  awal  dalam pembelajaran  kooperatif  tipe  STAD  selaludimulai  dengan  penyajian  kelas.  Penyajian  kelas  tersebut  mencakup  pembukaan,
pengembangan dan latihan terbimbing dari keseluruhan pelajaran dengan penekanan dalam
penyajian  materi  pelajaran.  Pada  saat  pertama  kali  guru  menggunakan  pembelajaran
kooperatif,  guru  juga  perlu  memberikan  bantuan  dengan  cara  menjelaskan  perintah,
mereview konsep atau menjawab pertanyaan.
Selama  belajar kelompok,  tugas anggota kelompok  adalah menguasai materi yang
diberikan  guru  dan  membantu  teman  satu  kelompok  untuk  menguasai  materi  tersebut.
Peserta didik diberi lembar kegiatan yang dapat digunakan untuk melatih keterampilan yang
sedang diajarkan untuk mengevaluasi diri mereka dan teman satu kelompok.
Kuis dikerjakan peserta  didik  secara  mandiri. Hal  ini bertujuan  untuk menunjukkan
apa  saja  yang  telah  diperoleh  peserta  didik  selama  belajar  dalam  kelompok.  Hasil  kuis
digunakan  sebagai  nilai  perkembangan  individu  dan  disumbangkan  dalam  nilai
perkembangan kelompok. Langkah pertama yang harus dilakukan pada kegiatan ini adalahmenghitung  nilai  kelompok  dan  nilai  perkembangan  individu  dan  memberi  sertifikat  ataupenghargaan  kelompok  yang  lain.  Pemberian  penghargaan  kelompok  berdasarkan  padarata-rata nilai perkembangan individu dalam kelompoknya.

D.    Contoh aplikasi model STAD dalam Fisika

      1.      Gerak lurus

Gerak lurus di katakan bergerak apabila kedudukannya berubah terhadap acuan. Misalnya penumpang yang berada didalam kereta yang sedang bergerak meninggalkan stasiun. Jika stasiun di tentukan sebagai acuan, maka penumpang dan kereta bergerak terhadap stasiun. jika kereta ditentukan sebagai acuan, maka dapat dikatakan penumpang diam (tidak bergerak) terhadap kereta. Lintasan adalah titik-titik berurutan yang di lalui oleh suatu benda yang bergerak. Benda dikatakan bergerak lurus jika kedudukannya berubah terhadap acuan dan dalam lintasan yang lurus.
Kedudukan adalah letak suatu benda pada suatu waktu terhadap suatu titik acuantertentu. Kedudukan suatu benda dapat di nyatakan terhadap suatu titik sembarang terhadap suatu titik yang disebut titik  acuan. Kedudukan dikanan titik acuan bertanda positif (+) dan kedudukan di sebelah kiri titik acuan  bertanda negatif (-). Jadi kedudukan suatu benda di tentukan oleh besar dan arah, sehingga kedudukan termasuk besaran vektor.
Jarak adalah panjang sesungguhnya yang ditempuh oleh suatu benda dalam waktu tertentu. Perpindahan adalah suatu perubahan kedudukan suatu benda  dalam waktu tertentu. Perpindahan hanya bergantung pada kedudukan awal dan akhir, serta tidak bergantung pada lintasan yang di tempuh benda. Contoh Doni bergerak dari A ke B kemudian bergerak ke C.
Jarak yang di tempuh doni : A-B-C
Perpindahan : A-C
Kelajuan adlah perbandingan jarak dengan waktu tempuh dan besaran tidakbergantung pada arah. Alat untuk mengukur kelajuan adalah speedometer.Kecepatanadalah perbandingan antara perpindahan dengan waktu tempuhnya.Kecepatan dapat bernilai positif atau negatif, dan termasuk besaran vektor.

      2.      Gerak Lurus Beraturan

            Gerak lurus beraturan didefinisikan sebagai gerak suatu benda pada lintasan yang lurus dengan kecepatan tetap. Kecepatan tetap artinya arah dan besarnya tetap. Hubungan  antara perpindahan (s), kecepatan (v), dan waktu (t) pada gerak lurus beraturan adalah :
Kecepatan (v) = s/t

a.       Grafik hubungan antara perpindahan (s) dan waktu (t) pada Gerak Lurus Beraturan (GLB)
                       


b.      Grafik hubungan antara Kecepatan (v) dan waktu (t) pada Gerak Lurus Beraturan (GLB)
                    


                                                                           
                                                                     
E.     Kerangka berpikir
Model kelompok diskusi adalah model pembelajaran dan pembicaraan yang bersifat edukatif reflektif dan terstruktur dengan peserta didik yang lain. (kindvatter wilen isiher 1990 : 278). Intinya adalah pembicaraan, saling tukar gagasan dan ide dengan yang lain. Diskusi dengan teman yang lain tentang konsepyang di pelajari dengan membuat mereka tertantang mengerti lebih dalam.
Namun yang di perhatikan dalam belajar kelompok adalah guru memberika beberapa tugas yang sama di setiap kelompok dan peserta didik mengerjakan tanpa melibatkan teman yang lain.
Padahal yang di harapkan dalam belajar seperti ini adalah peserta didik dipacu terlibat aktif dalam diskusi. Mereka dibiasakan dalam mengekspresikan apa yang dipikirkan. Karena itu untuk peserta didik yang pasif tidak dapat mengembangkan pengetahuannya dan hasil belajarnya kurang dalam pembelajaran. Pertanyaan sekarang bagaimana meningkatkan hasil belajar peserta didik yang pasif dalam model pembelajaran kelompok ?
Jawabannya : menggunakan model koopratif tipe stad. Dengan model ini peserta didik di tempatkan dalam tim belajar yang tugasnya menguasai materi yang  di berikan guru dan membantu teman satu kelompok untuk menguasai materi tersebut. Peserta didik di beri lembar kegiatan (tugas) yang dapat di gunakan untuk melatih keterampilan yang sedang di ajarkan untukmengevaluasi diri mereka dan tman satu kelompok.



Gambar. 2. Bagian Kerangka Berfikir


DAFTAR PUSTAKA

Arends, R. I. 1997. Classroom Instruction and Management. McGraw Hill
Companies. New York.
Burden, P. & Byrd, D. 1999. Methods for Effective Teaching. Boston : Allyn and Bacon.
Hamza,  B.U,  2008.  Model  Pembelajaran,  Menciptakan  Proses  Belajar  Mengajar Yang  Kreatif  danEfektif, Penerbit Bumi Aksara.
Ibrahim, M, Fida R. Nur.M dan Ismono. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Unesa Press. Surabaya.
Lie, Anita. 2002, CooperativeLearning : Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang–ruang kelas. Grasindo Gramedia. Jakarta.
Tim pelatih PGSM. 1999. Penelitian Tindakan Kelas, Proyek PGSM Depdikbud Jakarta.12


Untuk Download artikel di atas silahkan dowload di SINI
Cara Download :
- tunggu 5 Detik
- Klik SKIP AD di Pojok Kanan Atas
- Selesai



0 komentar:

Posting Komentar

By :
Free Blog Templates